Indolucky

Hutang 06

37052_158596680972029_748813018_n

Sambungan dari bagian 05

THE BEST PART (HARVEST SEASON)

Schyte yang terayun
Lima hari sebelum deadline

“Tidak, aku tidak bisa,” pemuda itu mendorong tubuhnya bangkit.
Napasnya tersengal, keringat mengucur di sekujur permukaan kulitnya. Menutupi kedua wajahnya dengan talapak tangan, ekspresinya menggambarkan bahwa suatu perasaan galau berkecamuk.
“Ray?” gadis di atas sofa berbisik lirih. Kepasrahan yang menyelimutinya belasan menit lalu membuat air matanya menitik keluar.
Berusaha menutupi ketelanjangannya, Dewi mengangkat tubuhnya.

Si pemuda tidak mengatakan apapun. Sikapnya diam bagai batu. Sebuah sentuhan telapak tangannya di punggung Ray, Dewi merasakan tubuh pemuda itu bergetar. Helaan demi helaan napas terdengar kemudian.
“Kamu kenapa, Ray?”
Tiba-tiba, pemuda itu melepas tangannya, menepis sentuhan di tubuh belakangnya. Kepalanya tertoleh. Dewi terhenyak saat melihat ada air mata di situ.

“Jangan,” desis Ray, nadanya berat dan dalam.
“Ray, kamu kenapa?” bisik Dewi gelisah.
Pemuda di depannya bergesar menjauh. Pandangannya beralih ke lantai. Rambut-rambut yang semula lengket di lehernya, jatuh membentuk tirai menutupi wajahnya. Dewi tidak berani mendekat. Tidak berani menyentuh lagi.

“Aku,” Ray berbisik, “Aku sudah membuat dosa.”
Alis si gadis berkerut. Ia diam, menunggu kelanjutan dari si pemuda. Ray menoleh, menatap Dewi dengan matanya yang merah. Mereka saling bertatapan. Sejuta kata mengalir tanpa dapat dimengerti. Ray mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya di pipi gadis di depannya. Dewi memejamkan mata. Ia dapat menangkap satu kesedihan di situ. Air mata jatuh lagi.

“De, aku sudah berdosa padamu,” pemuda itu berbisik lagi.
Hati Dewi bergetar. Sejak awal ia sudah tegang saat Ray benar-benar mengajaknya ke rumah pemuda itu. Ia kemudian tidak juga mengerti, mengapa ia dapat terlena seperti itu saat Ray memeluk dan menciuminya. Ia tidak mengerti, mengapa ia dapat begitu pasrah saat pemuda itu menelanjanginya, menyentuh semua bagian tubuhnya. Lama Dewi memejamkan mata. Kalau dosa itu yang dimaksudkannya, maka Dewi dapat bernapas lega. Karena dosa itu belum terlalu dalam. Belum sempat terjadi apa-apa.

Gadis itu menggerakkan kepalanya. Dengan memejamkan mata, ia mengecup telapak tangan si pemuda. “Aku tahu, Ray,” bisiknya lirih.
“Kamu tidak tahu,” Ray mendesis.
Dewi membuka mata, menatap pemuda itu heran. Ray menarik telapak tangannya, meraih selembar kaos yang tergeletak di lantai, lalu memberikannya pada Dewi.
Sebuah senyum di wajah pemuda itu saat ia berbisik, “Kamu pakailah.”
Dewi membalas senyuman itu, mengambil baju yang disodorkan, lalu memeluk baju itu di depan dadanya.

Dingin sekali di dalam ruang tamu itu. Di tengah gelap, kesunyian datang lagi. Ray memiringkan tubuhnya dan meletakkan sisi tubuhnya di atas kedua paha telanjang si gadis. Dewi mengulurkan jemarinya untuk membelai rambut ikal si pemuda. Benak gadis itu melayang-layang. Betapa ia mencintai sosok satu ini. Sekarang tambah satu point yang meyakinkannya. Pemuda itu tidak berniat sama sekali untuk memilikinya secara fisik. Pasti itulah sebab mengapa ia menghentikan semua kenikmatan khayal tadi. Pemuda ini, batin si gadis, tahu kapan harus berhenti.

“De..?” si pemuda memanggil namanya, Dewi membuka matanya yang sempat terpejam saat kesunyian melintas tadi.
“Hmm..?” desahnya dengan nada bertanya.
“Aku mempermainkanmu. Kamu sadar itu?”
Jatung Dewi seolah berhenti berdegup. Sisiran jemarinya di rambut si pemuda terhenti. Ia seolah terbetot dalam suatu tanda tanya besar yang mengerikan.
“Apa maksudmu?” bisik gadis itu. Nada suaranya bergetar ketakutan.

Masih di atas paha telanjang si gadis, Ray memiringkan kepala, mengecup kulit yang putih bersih itu. Lalu ia menghela napasnya dalam-dalam.
“Aku memang berniat mempermainkanmu. Hanya saja, aku merasa kamu terlalu berharga untuk kupermainkan.”
Dewi memejamkan matanya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hatinya saat itu. Air matanya mengalir ke pipi.

“Aku tak mengerti, Ray,” bisiknya sendu, “Aku tak mengerti.”
Ray mendorong tubuhnya ke dalam posisi duduk. Kepalanya tertoleh, menatap wajah gadis di sampingnya. Senyum mengembang di wajah pemuda itu.
“Kamu tak harus mengerti,” bisiknya kemudian, sebelum membungkukkan tubuh, memunguti pakaiannya yang berserakan.

Dewi tidak berkata apapun, memejamkan mata, menggigit bagian bawah bibirnya, membiarkan keheningan mengiringi air matanya yang mengalir. Ia dapat merasakan saat pemuda itu bergerak, mengenakan pakaian, lalu bangkit berdiri. Ia tidak mendengar dan merasakan apa-apa lagi. Khawatir, Dewi membuka matanya. Ray ada di samping wajahnya. Pemuda itu berjongkok, menatapnya dengan senyum.

“Ray..,” Dewi memanggil nama pemuda itu lirih.
Sebuah telunjuk menempel di bibir si gadis.
“Sshh..,” bisik Ray, “Kamu pakai bajumu?”
Dewi tersenyum. Lega.

Di mata pemuda itu masih ada kehangatan. Tiada kata-kata dalam perjalanan. Tidak ada canda, sentuhan, bahkan saling pandang. Mereka tenggelam dalam suatu situasi yang menghanyutkan. Lampu-lampu kendaraan berkelebat lalu lalang. Lantunan musik lamat-lamat dari radio memberikan kesan dramatis yang menghipnotis. Sepuluh, dua puluh, empat puluh menit berlalu sudah.

Masih dalam keheningan yang sama. Ray akhirnya menghentikan mobilnya di depan Asrama Puteri. Teletik air hujan terdengar mengetuk atap mobil. Lima belas menit berlalu sia-sia. Hujan mulai turun lebih deras.
“Kamu tidak mau turun, De?”
Dewi menoleh, melihat pemuda itu tengah menatapnya. Dewi menggeleng.
“Aku tidak mau turun,” katanya setengah berbisik. Ray tersenyum.
“Karena hujan, atau karena masih ingin berduaan denganku?”
Dewi balas tersenyum, “Aku ingin berduaan denganmu.”

Tangan si pemuda terulur. Dengan telunjuknya Ray menelusuri garis tengah wajah si gadis. Dari kening, ke tulang hidung, bibir lalu dagu. Dewi memejamkan mata. Entah mengapa, dalam hati gadis itu terbersit sebuah ketakutan, ketakutan saat memikirkan kemungkinan bahwa pemuda itu akan meninggalkannya.
“Mau berhujan-hujan?” mendadak Ray berkata.

Dewi membuka matanya, menatap pemuda itu dengan rasa heran. Ia melihat cengiran di wajah Ray. Sebuah cengiran yang nakal. Dewi tersenyum dan mengangguk. Sambil tertawa, Ray bergerak ke samping, membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Pemuda itu memutari mobil, untuk sesaat kemudian membuka pintu yang lain. Dewi memekik saat hujan membasahi rambutnya. Ray menarik lengan gadis itu, berdua mereka memejamkan mata dan tertawa, menikmati air hujan yang membasahi tubuh mereka. Dalam tawanya, Dewi merasa pemuda itu menarik tubuhnya dalam dekapan. Mereka berpelukan di samping mobil.

Suara guntur menggelegar di kejauhan, tapi Dewi tidak takut. Ia merasa nyaman dan hangat. Satu lagi kilat cahaya, yang disusul gelegar. Ray melepaskan pelukannya, dengan senyum tersungging menarik lengan si gadis melangkah menuju teras Asrama Puteri. Dewi menyeka air di wajahnya dengan tangan. Air sudah tidak lagi mengguyur. Saat gadis itu membuka mata, ia sudah tidak menyadari kehadiran si pemuda di sisinya. Ketakutan itu datang lagi. Dengan pandangan mata gelisah, Dewi mencari-cari sosoknya di balik tirai hujan.

“Ray,” serunya saat menemukan pemuda itu berdiri di samping lampu jalan, di luar pagar.
“Jangan kemari!” ia mendengar pemuda itu berseru, saat ia hendak melangkah keluar teras.
Dengan bingung, Dewi memandang ke arah sosok itu. Sosok yang tanpa berkata apapun, membalikkan tubuh dan berlari.
“Ray..!” Dewi menjerit, menyadari ketakutannya berubah menjadi kenyataan.

Ia berlari secepat mungkin. Terjatuh di rerumputan, beberapa meter di depan teras. Lututnya sakit, tapi ia mencoba untuk berdiri. Saat itulah matanya menangkap kelebat mobil yang begitu dikenalnya. Dewi jatuh terduduk di atas rerumputan. Matanya menatap nanar. Air hujan mengguyur, angin membuat setiap tetes seolah menamparnya. Satu kilat cahaya, satu lagi gelegar guntur. Dewi meraung. Ia menangis. Ia terluka. Meratap.

“Ray, aku mencintaimu. Aku yakin kau juga demikian. Mengapa? Mengapa?”
Bahkan sampai sepuluh menit ia meratap, gadis itu masih meyakini bahwa si pemuda meninggalkannya karena sebuah perasaan bersalah.

Di belahan kota yang lain, sebatang Marlboro dinyalakan. Sang iblis sendiri, terkekeh, saat menghembuskan asap dari ujung bibirnya. Sekarang tinggal menunggu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak ada perasaan bersalah. Tidak ada sesal. Tidak perlu lagi memikirkan kehangatan semu di elevator tempo hari. Kakinya menginjak pedal gas dalam-dalam. Ada noda darah di ruangan gelap yang harus dibersihkan.

***

Real Jay?
Lima hari sebelum Deadline

Motor hitam itu melaju cepat di bawah siraman hujan rintik-rintik yang mengguyur Surabaya pagi itu. Dua orang pengendaranya, sepasang muda-mudi. Sesekali tertawa-tawa riang. Mereka tampak menikmati momen itu.
“Jaayy, ujan nih, basah!” jerit Shinta.
“Lhah, emang mau kekeringan?” canda Jay sekenanya.
Gemas, Shinta mencubiti pinggang si pemuda, yang hanya dapat mengaduh. Jalanan sudah lumayan ramai. Bisa gawat kalau si pemuda kehilangan pandangan, walau hanya sesaat. Ia hanya pasrah diserang demikian rupa.

“Shin, mampir tempatku, yuk?”
“Ah? Ngapain?” Shinta terkejut.
“Ganti baju aja. Masa kamu mau ke kampus basah-basah gini?”
Shinta dapat merasakan desiran darah di vena wajahnya. Ke tempat Jay? Jauh di lubuk hatinya, ia merasa jengah, membayangkan dirinya, seorang gadis, yang nota bene masih benar-benar gadis, masuk ke rumah seorang laki-laki. Tapi benaknya mendorongnya untuk menerima tawaran itu. Di mana lagi tempat yang lebih baik untuk mengenal seorang lelaki selain di rumahnya? Benteng terakhir privasinya?

“Nggak mau? Ya udah.” Jay sekuat tenaga menekan nada kecewa dalam suaranya.
Duh, umpan terbaikku ditolak mentah-mentah, batinnya gundah. Resiko perjuangan.
Tetapi, “Boleh…” Shinta berteriak menyaingi deru hujan dan kendaraan di sekitar mereka.
“Eh? Oke…” balas Jay juga berteriak, “..horeee..!” sambungnya norak dalam hati.
Ia membelokkan setir dengan luwes. Lalu menarik gas penuh semangat.

Bersambung ke bagian 07

15 Comments on "Hutang 06"

  1. Permata Sari Harahap | 19/11/2009 at 01:48 | Balas

    PENGARUH PROFITABILITAS KEBIJAKAN HUTANG DAN KEPEMILIKAN . 17 jurnal bisnis dan akuntansi vol 12 no 1 april 2010 hlm 17 28 pengaruh profitabilitas kebijakan hutang dan kepemilikan institusional terhadap kepemilikan.

  2. Valia Rahma | 19/11/2009 at 14:11 | Balas

    Majlis Dzikir Nurul Abror 010615. YAYASAN MASJID NURUL ABROR MEJASEM BARAT SK MENTERI Hukum dan HAM No AHU 891AH 01014 Tahun 2011 alamat email yayasanmasjidnurulabrorgmailcom .

  3. Metta Permadi | 19/11/2009 at 15:52 | Balas

    TOP 10 NEGARA PALING TINGGI HUTANG DI DUNIA MALAYSIA . Hutang negara kita ialah 5177 2011 dari pendapatan negara kasar Maksudnya Apr 06 2 Apr 05 8 Apr 04 4 Apr 03 .

  4. Melina Zafar | 20/11/2009 at 12:40 | Balas

    Ibnu Hasyim Bantu Anda Bebas Dari Hutang. ANDA terjebak dalam hutang Sudah karam dalam hutang Hutang kereta 1230 0106 2 Bantu Anda Bebas Dari Hutang Wanita Muda Kehausan.

  5. Deasy Novianti | 20/11/2009 at 17:18 | Balas

    BANYAK HUTANG KI BAYU SEJATI. Hampir setiap orang memiliki hutang ada hutang yang banyak juga ada hutang yang sedikit Mei 06 2 Mei 07 4 Mei 08 2 .

  6. Febriyanie Ferdzilla | 20/11/2009 at 17:37 | Balas

    Penny Dreadful Season 2 Episode 1 Full Episodes YouTube. To watch Penny Dreadful Season 2 Episode 1 full episodes VISIT HERE httpbitly1H86k0G FULL HD Penny Dreadful Season 2 Episode 1 full .

  7. Btari Karlinda | 20/11/2009 at 21:09 | Balas

    Aku Dan Diriku KEWAJIPAN MELUNASKAN HUTANG. Aku berlindung denganMu daripada dilanda hutang dan kekuasaan orang lain Aug 06 2 Aug 05 2 Aug 04 1 Aug 03 .

  8. Ratu Annisa | 21/11/2009 at 08:23 | Balas

    Fudzail Hutang Dubai USD80 billion dan 10000 orang . Hutang Dubai USD80 billion dan 10000 orang dijangka hilang kerja Nov 07 2 Nov 06 1 Nov 04 2 Nov 03 3 Nov .

  9. Ellya Khadam | 22/11/2009 at 12:29 | Balas

    4 musibah orang yang tidak mahu membayar hutang. 4 musibah orang yang tidak mahu membayar hutang May 03 3 April 36 Apr 30 4 Apr 25 2 2 Jun 06 3 Jun 02 1.

  10. Fortunella | 23/11/2009 at 17:07 | Balas

    HUTANG NEGARA PUAK PAKATAN HARAMJADAH TERUS MENERUS . HUTANG NEGARA PUAK PAKATAN HARAMJADAH TERUS MENERUS .

  11. Hanna Wijaya | 23/11/2009 at 21:02 | Balas

    Badman Hutang Warisan SBY Untuk Rakyatnya. Hutang yang dimiliki Amerika Serikat saat ini sudah mencapai 143 triliun dollar AS May 06 2 May 05 3 May 04 5.

  12. Winnie Yanthi | 24/11/2009 at 07:31 | Balas

    PENEROKA FELDA MENDAPAT HUTANG BARU RM100 RIBU HINGGA . Hutang ini melibatkan kos tanam semula ladang mereka yang bernilai sekitar RM100 ribu hingga RM150 ribu Sedangkan ketika peneroka masuk FELDA .

  13. Intan Nuraini | 24/11/2009 at 21:08 | Balas

    MENAGIH HUTANG KI BAYU SEJATI. Bagi anda yang suka berpiutang memberi hutang Jun 06 2 Jun 24 1 Jun 28 1 Jun 29 1 Juli 2009 3 .

  14. Yessy Gusman | 25/11/2009 at 09:33 | Balas

    Changzhou Wujin Hutang Xiaojun Mould Factory. Business Started In 06 2 Number of Employees 30 Last updated a year ago UPDATE NOW Changzhou Wujin Hutang Xiaojun Mould Factory 6 TEN STATION WINDING MACHINE.

  15. Nabila Syakieb | 25/11/2009 at 17:57 | Balas

    PERTEMUAN 06 BIAYA MODAL DAN STRUKTUR MODAL. Rowland Bismark F Pasaribu PERTEMUAN 06 2 modal menurut Lawrence 2000 yaitu modal hutang debt capital dan modal sendiri equity capital.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*