Indolucky

Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah

999191_1389105718002312_191801836_n

Jangan pernah berpikir Tut, aku akan menceraikanmu. Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku, mending kugantung saja perkawinan ini. Dengan begitu, kita seri. Kamu bisa bahagia dengan mencari di luar, begitu pun denganku. Tapi soal status, jangan lupa, kamu masih tetap istriku… selamanya!

Kata-kata Mas Santoso tiba-tiba mengiang di telingaku. Malam, sudah tua benar. Jam di dinding kamar hotel yang kutempati dengan Bram, kekasih baruku, telah menunjukkan pukul 24.15. Tapi aku masih termangu di depan jendela, mencoba mengurai kembali perjalanan hidupku. Dari keinginan orangtuaku untuk mengawinkan aku dengan Mas Santoso yang sebenarnya tak pernah kucintai, sampai dengan sederet petualanganku dengan lelaki lain yang memberikan kenikmatan berlebih-lebih.

Entahlah, mungkin karena aku tak pernah mencintai Mas Santoso, setiap ia menuntut haknya sebagai suami, aku selalu ogah-ogahan. Kalau toh harus melayaninya, itupun kulakukan dengan terpaksa. Hasilnya, sungguh jauh dari memuaskan. Itu pula kesan yang diperoleh Mas Santoso dariku. “Kalau begini terus, bisa-bisa aku impoten. Soalnya di atas ranjang, kamu tak ubahnya sepotong batang pisang. Dingin, kayak es”, gerutu Mas Santoso.

Sejak menikah dengan Mas Santoso 4 tahun lalu, rasanya bisa dihitung dengan jari aku melakukan hubungan suami-istri dengannya. Terus terang, aku lebih banyak menolak daripada melayani hasrat seksualnya. Kalau toh mau, ya itu tadi, dengan setengah hati. Artinya, aku juga tak pernah bermimpi bisa mendapatkan kenikmatan surga duniawi saat berhubungan intim dengannya.

Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain, rasa yang kudapatkan sungguh dahsyat luar biasa. Aku mampu berperan aktif di ranjang. Mencoba memuaskan pasanganku, dan sebaliknya berharap kepuasan setimpal darinya. Tak mampu kuingat lagi, dengan beberapa pria yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama. Salah satunya adalah Bram, seorang mahasiswa hukum usianya terpaut 5 tahun lebih muda dari usiaku sendiri yang sudah menginjak kepala 3.

Aku kenal denga Bram karena ia kost di rumah seorang tetangga. Posturnya yang tinggi dan tegap, membuat fantasiku melayang membayangkan yang bukan-bukan. Sampai akhirnya dengan seribu satu cara dan rayuan, pemuda asal Flores itu dengan senang hati kuseret ke atas ranjang.

“Kok ngelamun, apa yang Mbak pikirkan?” Suara bariton Bram membuyarkan lamunanku. Ternyata, ia sudah terbangun dari lelapnya, setelah sore tadi kami melewatkan permainan babak pertama. “Di sini kitakan mau senang-senang. Jadi kalau bisa, yang lain-lain dilupakan dulu”, rajuk Bram sambil menarik tubuhku kepelukannya.

Dada Bram yang bidang, bulu-bulu dadanya yang keriting dan gelap, menimbulkan rasa geli serta getaran hebat. Benar kata Bram, kenapa aku mesti melamunkan sesuatu yang seharusnya tak menyita pemikiranku benar. Apalagi menurut keyakinanku, Mas Santoso saat ini pun pasti tenggelam dalam pelukan Sri, sekretaris di perusahaan kontraktor miliknya. Saya begitu yakin tentang hal itu, karena akhir-akhir ini Mas Santoso sudah jarang pulang. Salah seorang pegawainya yang begitu dekat denganku, suatu ketika memergoki mobil Mas Santoso diparkir di depan rumah kost Sri.

Tangan kekar Bram yang dipenuhi bulu-bulu lebat, meraih bagian belakang leherku, dan dengan begitu otomatis wajahku terdongak. Kesempatan itu tak disia-siakannya, bibirku dilumatnya dengan kecupan kuat disertai gelitikan lidahnya. Tak lama kemudian, lidahnya menjalar ke leher, dada, terus kebawah… Aku menggelinjang beberapa kali, geli campur nikmat. Aku yang sejak tadi tak mengenakan sehelai pakaian pun, membuatnya lebih gampang mencumbuku. “Yang begini kan lebih menyenangkan Mbak, daripada mikir yang nggak-nggak”, kata Bram sambil membopong tubuhku ke atas ranjang.

Tapi anehnya, pada setengah angkatan Bram menghentikan langkahnya. Ia justru duduk di tepian ranjang, sambil tetap memeluk tubuhku di atas tubuhnya. Dalam posisi berhadap-hadapan, aku duduk dipangkuannya. Bram jadi leluasa mencumbu bagian depan dadaku. Berkali-kali ia mencium dan mengulum puncak dari dadaku. Aku merasa nikmat yang luar biasa. Tapi meski tubuhku meliuk-liuk menahan geli dan kenikmatan yang begitu dahsyat, Bram tak mencoba menghentikan cumbuannya. Sebaliknya, ia semakin ganas mencium dan mengulum, terus begitu, berulang-ulang seperti tak pernah bosan. Ketika kurasakan sesuatu mengaliri sekujur tubuhku, dan karenanya aku jadi sedikit tegang, sambil tersenyum nakal, Bram sedikit mengangkat tubuhku. Dengan kelihaian luar biasa, tiba-tiba saja tubuh kami sudah menyatu. Di atas pangkuannya, aku mulai memacu. Cepat dan semakin cepat. Sementara Bram dengan tatap melenguh, berusaha mengimbangi gerakanku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Aduh, rasanya aku melayang-layang dibuatnya.

Saat kelelahan mulai menyergap tubuh kami, Bram berinisiatif dengan mengubah posisi. Kami berbaring sambil tetap berpagut mesra. Ia tetap menggelutiku, bergerak-gerak di atas tubuhku, dari samping maupun belakang. Dan ketika sesuatu yang menggelegak seakan hendak termuntahkan, Bram memelukku erat-erat sambil mendesis, “Oohh.. yes!”

Jauh sebelum dekat dengan Bram, aku mengenal mitra kerja suamiku di perusahaan jasa kontruksi, namanya Pieter. Pria Manado yang menikah dengan wanita asal Kediri itu ternyata naksir berat kepadaku. Padahal ia sangat tahu, aku ini istri kolega bisnisnya. Dari kerlingan mata yang dilakukan sembunyi-sembunyi, senyum penuh arti, sampai terpukau di pantatku saat Mas Santoso lengah.

Sampai suatu malam, ketika Pieter datang ke rumahku, kemesraan itu terjadilah. Sebab baru seperempat jam Pieter duduk di ruang depan. Mas Santoso pamit akan keluar sebentar membeli sesuatu. Tinggallah aku dengan Pieter meneruskan obrolan. Satu jam lewat, perbincangan kami mulai menemukan titik kejenuhan, tapi Mas Santoso belum kembali juga. Sampai akhirnya, tiba-tiba Pieter menyeletuk, “Nggak usah ditunggu suamimu, paling-paling ia kerumah Sri. Sebab siang tadi lewat telepon, ia sudah janjian makan malam dengan sekretaris itu.”

Anehnya, meski menerima kabar tak menyenangkan itu aku masih bisa tertawa, tertawa lepas. Seperti tak ada beban. Melihat sikapku tak berubah, Pieter jadi semakin berani. Ia menyeret kursinya mendekatiku. Ketika obrolan kembali mengalir, kedua tanganku sudah berada digenggamannya. Sampai akhirnya dengan suara mendesah ia berkata, “Kamu cantik sekali Tut. Kalau Santoso sampai membiarkanmu merana begini, rugi besar dia. Percayalah, semua laki-laki akan mengatakan kamu cantik, menggairahkan. Termasuk aku, begitu mengagumimu.”

Aku tahu, kata-kata yang meluncur dari mulut Pieter benar-benar tulus. Justru. Dengan pengakuannya itu, timbul simpatiku kepadanya. Maka ketika Pieter berdiri dan mulai memelukku, aku tak berusaha menolak. Bahkan dengan penuh perasaan, aku ganti mendekapnya penuh kemesraan. Tapi rupanya, sudah lama Pieter memendam sesuatu kepadaku. Buktinya, ia tak cukup memeluk dan menciumku untuk menumpahkan perasaannya. Ketika pagutan-pagutan hangat membuat kami semakin terbakar, ia berani membimbingku masuk ke kamar.

Dengan tenang, tanpa takut dipergoki Mas Santoso, Pieter melanjutkan cumbuannya sambil melolosi satu-persatu pakaianku. “Sudah lama sebenarnya gelora hati ini ingin kutumpahkan kepadamu. Tapi aku masih ragu, apakah engkau mau menerimanya”, ucap Pieter dengan nafas memburu, sembari mendaratkan ciuman-ciuman mautnya di wajah, leher dan dadaku.

Dalam keadaan telentang, dan akhirnya tanpa selembar kain pun, aku hanya bisa pasrah, sambil berharap sesuatu yang menyenangkan itu tiba juga, Tapi Pieter agaknya pintar menyenangkan seorang wanita, Geraknya tetap pelan, hati-hati tapi penuh perasaan. Dan ketika gerakanku sudah seperti cacing kepanasan, ia mahfum bahwa saatnya tiba. Dengan sepenuh hati, ia menghimpitku dan mulai melakukan gerakan-gerakan teratur naik turun. Tetap pelan, tapi justru hal itu membuatku penasaran. “Ayo Piet, cepat, cepat…”, Pintaku seperti kurang sabar.

Bagiku, sebuah pengalaman baru melakukan hubungan intim dengan tempo yang terkesan lambat, tapi bertenaga dan penuh perasaan. Ternyata, hasilnya jauh lebih menyenangkan. Sampai akhirnya ketika pelabuhan yang kami tuju sudah di depan mata, aku baru sadar puncak kepuasan itu telah kami raih bersama-sama. Saking bahagianya, aku sampai menangis sambil menggigit pundak Pieter. “Kamu sungguh hebat”, pujiku.

Lepas dari pelukan Pieter, seorang pejabat di pemerintahan berhasil menggaet hatiku. Pak Sos, namanya. Usianya sudah hampir setengah abad, tapi penampilan yang wangi dan rapi sempat membuatku mabuk kepayang. Satu hal lagi, ketika aku jatuh dalam pelukan Pak Sos, suamiku-Mas Santoso-sedang dililit persoalan keuangan berkaitan dengan tendernya yang sepi sebagai seorang kontraktor. Akibatnya, hal itu jadi semacam faktor pendorong intimnya hubunganku dengan Pak Sos. Selain mendapatkan kepuasan biologis, Pak Sos juga memberiku dukungan finansial. Bahkan aku pernah dibelikan sebuah rumah cukup mewah di pinggiran kota, meski akhirnya dengan alasan tertentu kujual lagi.

Aku pertama kali kenal dengan Pak Sos berkaitan dengan proyek tender suamiku yang belum turun juga. Karena berbagai cara yang ditempuh untuk membujuk Pak Sos yang punya kewenangan menggolkan proyek itu, Mas Santoso akhirnya minta bantuanku. “Mungkin karena kamu seorang wanita, Pak Sos bisa lunak hatinya”, begitu harapan suamiku.

Apa boleh buat, permintaan Mas Santoso mesti kupenuhi. Ketika tiba di ruang kerjanya yang besar dan ber-AC, kesan yang muncul pertama saat bertatap muka dengan Pak Sos adalah berwibawa tapi cuek. Tanpa membuang-buang waktu, aku mulai melancarkan jurus-jurus rayuan. Tapi seperti yang kuduga, Pak Sos tak gampang ditundukkan dengan cara-cara klise begitu. Aku mulai putus asa. Apalagi dengan angkuhnya Pak Sos berujar, “Bilang sama suamimu, nggak etis dia menyuruh istrinya merayuku untuk mendapatkan tender. Katakan padanya, apakah harga istrinya cuma sebuah tender?”

Telingaku jadi panas, aku nyaris menangis mendengarnya. Tapi meski begitu, kira-kira sepekan kemudian datang surat dinas dari kantor Pak Sos, yang isinya menjelaskan bahwa beliau setuju mendapatkan proyek yang diinginkannya. Mas Santoso tampak berbunga-bunga, tapi sebaliknya dengan aku. Menyadari semua itu aku jadi muak. Aku merasa telah dipermainkannya, dijadikan umpan agar dia berhasil mendapatkan proyek yang diinginkannya.

Sampai suatu siang, ketika Mas Santoso sudah berangkat ngantor, tanpa diduga Pak Sos menelepon ke rumah. Mula-mula, dia cuma basa-basi. Mulai menanyakan soal rumah tangga sampai menyinggung pekerjaan Mas Santoso, “Apa kamu nggak tersinggung dengan cara-cara suamimu mendapatkan tender proyek, sampai melibatkan istrinya untuk melobi-lobi begitu?” tanya Pak Sos.

Yang pasti dari pembicaraan pertelepon selama 30 menit itu, aku akhirnya tahu bahwa Pak Sos ternyata bukan tipe lelaki yang cuek dan kaku seperti yang kuduga sebelumnya. Sebaliknya, jika sudah mengobrol cukup lama dengannya, aku menyadari kalau ia cukup hangat dan romantis sebagai lelaki. Lebih dari itu, lewat suaranya yang serak-serak basah, ia begitu perhatian pada lawan jenisnya. Misalnya ketika aku mengutarakan keinginan untuk bekerja, Pak Sos dengan antusias menanggapi bahwa hal itu bisa gampang kudapatkan, asal aku tak pilih pekerjaan, atau berhitung soal pendapatan yang kuperoleh, “Kalau mau, ada lowongan di perusahaan milik kolega yang saya jamin pasti mau menerimamu. Kalau kamu serius, datanglah besok ke kantorku. Kita bicarakan lebih detil di sini”, undangnya. Keesokan hari, lewat tengah hari seperti waktu yang kami sepakati, aku datang ke kantor Pak Sos. Aku sempat kecewa ketika sampai di depan pintu, ada tulisan: Keluar. Artinya, seperti kebiasaan di kantor-kantor pemerintah, si pejabat tak ada di tempat karena sedang keluar ruangan. Tapi saat aku termangu di depan pintu, seorang bawahan Pak Sos datang mendekati sambil berbisik, “Bu Tut, silakan masuk saja, Pak Sos ada di dalam kok. Ia sengaja membuat tulisan begitu, agar tak ada yang mengganggunya.”

Pak Sos memang ada di ruangannya, tersenyum-senyum di atas kursi besarnya begitu melihat kedatanganku. Aku dipersilakan duduk, sementara ia membuka lemari es kecil untuk mengambil 2 botol softdrink. Tak lama kemudian kami tenggelam pada obrolan yang lebih serius, menyangkut keinginanku untuk bekerja. Ketika pembicaraan berganti topik, soal rumahtanggaku, soal hubanganku dengan Mas Santoso, nada bicara Pak Sos jadi terdengar lembut, teduh dan begitu hangat. Tak terasa, ketika aku begitu hanyut menceritakan nasib perkawinanku, ia sudah berdiri begitu dekat denganku. Ketika tetes-tetes air mata membasahi pipiku, Pak Sos dengan merengkuh pundakku dan kemudian memelukku penuh perasaan.

Kami tenggelam dalam keharuan yang dalam. Tapi ketika perasaan kami sudah begitu menyatu, keharuan itu mendadak saja jadi gelora yang berkobar-kobar, manakala tangan Pak Sos yang sangat terlatih mulai bergerak liar di bagian-bagian tubuhku yang paling sensitif. Ketika kancing-kancing blusku telah terbuka semua, aku seperti tak sadar kalah dalam posisi telentang di atas meja kerja Pak Sos, dan ia dengan begitu bernafsu, menghimpit dan mencumbuiku.

Kami seperti 2 manusia yang kehilangan akal. Di atas meja itu kami memperagakan permainan aneh yang yang menyenangkan, setelah Pak Sos melepas pertahanan terakhir dari kain paling tipis yang kukenakan. Nafas Pak Sos memburu seiring dengan gerakan-gerakan yang teratur. Di atas meja, hanya dengan melihat langit-langit atap ruangannya, aku terhentak-hentak dan merasakan tubuhku seperti tengah mengambang. Dan ketika puncak kenikmatan telah kami raih bersama, sadarlah aku bahwa hal itu seharusnya tak kami lakukan di kantornya. Sambil tersipu-sipu, aku membenahi kembali pakaianku yang berantakan. Tapi Pak Sos cepat menghibur, “Jangan merasa bersalah, tenang-tenang saja. Mau kuambilkan minuman lagi?”

Sejak beberapa bulan lalu, ia harus pindah kerja di kota Malang karena ada mutasi pekerjaan. Karena itu untuk melipur kesepian hati, aku berkenalan dengan Bram, pemuda tanggung yang ternyata lebih bisa memuaskan soal urusan ranjang, dibanding suami sahku, Mas Santoso. Tentang laki-laki terakhir, hingga detik ini masih terikat perkawinanku meski ia sudah jarang pulang, karena lebih suka menginap di rumah Sri, sekretarisnya. Aku sendiri, terus terang saja rasanya tak cukup siap untuk menghentikan semua kesenangan ini.

TAMAT

30 Comments on "Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah"

  1. Hanya cinta sesaat 2 Cerita Dewasa. mulus seorang gadis yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan dengan mudah aku dapat Hanya dengan pria lain aku bergairah .

  2. Gladys Suwandhi | 19/11/2009 at 03:56 | Balas

    Normalkah Istri Jatuh Cinta Pada Pria Lain Kompas Forum. ia pun akan kembali bergairah dengan hidupnya memilih pria baru ini tentu hanya akan menyakiti Sampaikan bahwa Anda tertarik dengan pria lain .

  3. Rieke Dyah Pitaloka | 19/11/2009 at 04:42 | Balas

    Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah umum1 peperonitycom. Welcome guest You are not logged in Log in or join for free.

  4. Sabai Morscheck | 19/11/2009 at 06:39 | Balas

    Pendekar Mupeng Hanya dengan pria lain aku bergairah. Hanya dengan pria lain aku bergairah .

  5. Mona Ratuliu | 19/11/2009 at 10:09 | Balas

    Karena Dendam Akhirnya Aku Menikah Dengan Pria Lain. Karena dendam akhirnya aku menikah dengan pria lain yang bukan kekasihku yang jelas aku hanya ingin kisah ini menjadi pembelajaran bagi banyak orang.

  6. Pinkan Mambo | 19/11/2009 at 19:52 | Balas

    Cerita dewasa Hanya dengan pria lain aku bergairah. Jangan pernah berpikir Tut aku akan menceraikanmu Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku mending kugantung saja perkawinan ini Dengan begitu .

  7. Dina Lorenza | 20/11/2009 at 06:09 | Balas

    Cerita sex pacar selingkuh dengan pria lain. Sekarang aku mudah bergairah dan sering ML dengan pacar istri ikut berselingkuh dan menjalin hubungan dengan pria idaman lain ini hanya untuk yang .

  8. Winnie Yanthi | 20/11/2009 at 09:39 | Balas

    Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah Cara Alami News . Best Place to get latest news about Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah Cara Alami and read our other update news related to Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah .

  9. Chitra Dewi | 20/11/2009 at 12:25 | Balas

    Surga Cerita Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah. Surga Cerita Hanya Dengan Pria Lain Aku BergairahSurganya para pencinta cerita dewasa.

  10. Cara Agar Pria Bergairah Selebriti Hot News s. Hanya dengan pria lain aku bergairah Cara alami memperbesar alat vital tanpa obat dan alat mengatasi ejakulasi dini dan impotensi kuat seks .

  11. Novia Kolopaking | 20/11/2009 at 20:09 | Balas

    Hanya cinta sesaat 2 Cerita Hot Terlengkap 2013. mulus seorang gadis yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan dengan mudah aku dapat Hanya dengan pria lain aku bergairah .

  12. Marcella Zalianty | 20/11/2009 at 21:24 | Balas

    Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah Arena Dewasa. Cat Foto By arena on 16th January 2015 290 Views No Comments Tidak perlu ragu bingung dan malu pada diri sendiriapa lagi untuk mencari kepuasan yang anda .

  13. Asti Ananta | 20/11/2009 at 22:15 | Balas

    Hanya Cinta Sesaat 2 Aneka Foto Artis. Hanya Dengan Pria Lain Aku Bergairah Let It Rain 2 Let It Rain 1 Maaf Saya Khilaf Malu Tapi Mau 2 Malu Tapi Mau 1 Multi Orgasme Indah.

  14. Monica Sayangbati | 21/11/2009 at 05:36 | Balas

    ketika aku masih lelaki mu YouTube. When I Was Your Man Same bed but it feels just a little bit bigger now Our song on the radio but it dont sound the same When our friends talk about you .

  15. Angel Lelga | 22/11/2009 at 02:48 | Balas

    Dewasa Khusus Dewasa. Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah Cat Cerita By dewasa on 9th June 2015 96 Views No Comments Jangan pernah berpikir Tut aku akan menceraikanmu.

  16. Cici Tegal | 22/11/2009 at 09:06 | Balas

    Heart 2 Heart Facebook. Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan tolong engkau jaga baikbaik ke2 mata yg telah aku berikan dan semua itu hanya dengan dua .

  17. Dewi Yull | 22/11/2009 at 09:51 | Balas

    Bergairah hanya dengan Lalaki KUMPULAN MACAM CERITA SEX. Bergairah hanya dengan Lalaki Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain dengan beberapa pria yang bukan suamiku aku pernah tidur bersama.

  18. Nafa Urbach | 22/11/2009 at 12:26 | Balas

    Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah. Sebaliknya jika melakukan dengan pria lain rasa yang kudapatkan sungguh dahsyat luar biasa Aku mampu berperan aktif di ranjang Mencoba memuaskan pasanganku dan .

  19. Maria Selena | 22/11/2009 at 15:55 | Balas

    Cerita sex bercinta dengan 2 pria didepan suami. Cerita sex bercinta dengan 2 pria ikut berselingkuh dan menjalin hubungan dengan pria idaman lain aku mudah bergairah dan sering ML dengan pacar .

  20. Alya Rohali | 22/11/2009 at 17:34 | Balas

    Besanku Kekasihku 2 Holan Martole. Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah Recent Posts Skandal di Kantor Percintaan dengan Adik Istri Karena Terlalu Bernafsu Ibu Guru yang Nakal 2 Ibu Guru yang .

  21. Anisa Rahma | 23/11/2009 at 11:25 | Balas

    Hanya dengan pria lain aku bergairah. Tidak perlu ragu bingung dan malu pada diri sendiriapa lagi untuk mencari kepuasan yang anda inginkan selama ini dengan pasangan hidup andadisini priasejaticom .

  22. Laras Monca | 23/11/2009 at 11:33 | Balas

    cewek blue Hanya cinta sesaat 2. seorang gadis yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan dengan mudah aku dapat Hanya dengan pria lain aku bergairah.

  23. Amanda Faried | 23/11/2009 at 11:53 | Balas

    Cerita Seks Nonton Isteri Ngentot Dengan Pria Lain . digauli orang lain Sejak saat itu aku sering onani dengan bergairah Dengan tetap melayani Seorang pria yang awalnya hanya .

  24. Ranty Maria | 24/11/2009 at 18:19 | Balas

    Cerita sex pacar selingkuh dengan pria lain. David pacarku Sekarang aku mudah bergairah dan sering ML dengan cerita ini hanya untuk Curhat Kekasihku Menikah Dengan Pria Lain Aku .

  25. Monique Henry | 25/11/2009 at 00:57 | Balas

    Hanya dengan pria lain aku bergairah Cerita Dewasa. Jangan pernah berpikir Tut aku akan menceraikanmu Kalau memang maumu hendak menyiksa perasaanku mending kugantung saja perkawinan ini Dengan begitu kita seri.

  26. Millane Fernandez | 25/11/2009 at 02:49 | Balas

    Hanya Foto Bugil Cewek Seksi Memek Telanjang. Cerita Seks Dewasa Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah 24th April 2015 Cat Foto 46 Views No Comments Jangan pernah berpikir Tut aku akan menceraikanmu.

  27. Femmy Permatasari | 25/11/2009 at 08:04 | Balas

    Lain Cerita Sex. Cerita Ngentot Dengan Istri Orang Lain Istriku Mengkhayalkan Pria Lain Sunday May 17th Hanya dengan Pria Lain Aku Bergairah Friday May 15th .

  28. Senandung Nacita | 25/11/2009 at 08:10 | Balas

    Info Sex dan Unik Hanya dengan pria lain aku bergairah. Info Sex dan Unik.

  29. Ferina Widodo | 25/11/2009 at 10:41 | Balas

    Ciuman Yang Bergairah Selebriti Hot News s. 8 Fakta Ciuman yang Perlu Anda Ketahui Health Liputan6com Tahukah Anda ada beberapa fakta ciuman yang mungkin belum Anda ketahui Hanya dengan pria lain aku .

  30. Sigi Wimala | 25/11/2009 at 17:13 | Balas

    Cerita dewasa Hanya cinta sesaat 2. seorang gadis yang hanya mengenakan celana dalam dengan tatapan dengan mudah aku dapat 2 Hanya dengan pria lain aku bergairah.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*